SEMARANG – Dewan Mahasiswa Fakultas Teknologi Informasi dan Komunikasi (DEMA FTIK) Universitas Semarang (USM) sukses menyelenggarakan kegiatan Dialog Mahasiswa 2 (DM 2) pada Kamis, 15 Oktober 2026. Bertempat di Ruang 6.15 Menara USM Lantai 6, forum ini menjadi sarana diskusi terbuka bagi mahasiswa FTIK untuk menyampaikan berbagai saran, keluhan, hingga masukan strategis demi kemajuan lingkungan kampus.
Kegiatan yang dimulai pukul 09.00 WIB ini dipimpin langsung oleh Ketua DEMA FTIK, Marsya Aulia Anggita, yang bertindak sekaligus sebagai Pembaca Aspirasi, serta Yuliana Chandra Purwati selaku Ketua Pelaksana sekaligus Notulis. Acara ini dipandu oleh Ridha Sabrina sebagai Master of Ceremony (MC).
Dalam ajang aspirasi ini, berbagai isu teknis operasional kampus menjadi perhatian utama mahasiswa. Mahasiswa mengeluhkan fasilitas seperti koneksi Wi-Fi yang lambat di beberapa titik, ruang kelas yang kurang dingin akibat kendala AC, ketersediaan air minum galon di gedung FTIK, hingga kebersihan kamar mandi dan ruang kelas.
Menanggapi hal tersebut, pihak fakultas menyampaikan bahwa penanganan fasilitas fisik seperti Gedung Menara, area kantin, pengelolaan air galon, hingga pembuatan Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) melibatkan koordinasi dengan pengelola terkait dan tingkat Universitas. Pihak fakultas berkomitmen untuk terus meneruskan serta mengoordinasikan kendala-kendala tersebut ke tingkat rektorat dan Bagian Tata Usaha (TU).
Selain fasilitas fisik, sistem perkuliahan tak luput dari sorotan. Mahasiswa mengeluhkan beberapa kendala teknis pada sistem Learning Management System (LMS) baru yang menggantikan e-learning SIMA, khususnya bagi mahasiswa kelas sore, serta ketidaksesuaian jadwal kuliah maba dengan yang tertera di sistem. Pihak FTIK mengonfirmasi akan berkoordinasi lebih lanjut dengan pihak pengembang dan dosen pengampu terkait untuk evaluasi sistem dan penyesuaian jadwal.
Isu krusial lainnya yang mencuat adalah terkait penggunaan fasilitas kampus seperti auditorium dan kejelasan biaya kebersihan. Menjawab hal itu, dijelaskan bahwa pengajuan permohonan pemakaian auditorium pada dasarnya tidak dipungut biaya permohonan. Namun, untuk kebutuhan tambahan di luar kapasitas standar (seperti penambahan meja/kursi) serta biaya kebersihan di luar jam kerja, harus disertai dengan bukti transaksi yang sah. Pihak fakultas juga mendukung agar persoalan alokasi biaya kebersihan ini diaspirasikan ke tingkat universitas.
Tak kalah hangat, para peserta dialog juga menyuarakan evaluasi penerima beasiswa KIP-Kuliah agar tepat sasaran. Menanggapi kekhawatiran tersebut, dijelaskan bahwa pihak fakultas telah bertindak aktif dengan meneruskan laporan ke bagian kemahasiswaan. Saat ini, regulasi penetapan penerima KIP-K mengacu pada pendataan Desil 1–4. Penentuan akhir penerima beasiswa melibatkan kolaborasi antara fakultas, universitas, dan pemerintah, di mana FTIK siap memproses laporan sesuai ketentuan yang berlaku.
Menutup rangkaian penanggapan aspirasi, pengelola acara menekankan pentingnya ketepatan sasaran dalam penyampaian aspirasi di masa mendatang. Mahasiswa diharapkan dapat mengidentifikasi dan mengarahkan aspirasi secara spesifik apakah ditujukan untuk ranah wewenang Fakultas (FTIK) atau ranah Pusat/Universitas sehingga penanganan dan tindak lanjut dapat dilakukan secara lebih efektif dan tepat sasaran.
Melalui kegiatan Dialog Mahasiswa 2 ini, DEMA FTIK USM berharap komunikasi dua arah antara mahasiswa dan pengelola fakultas dapat terus terjalin secara konstruktif demi terciptanya iklim akademik yang lebih baik dan nyaman bagi seluruh sivitas akademika FTIK USM.
