SEMARANG – Ada yang berbeda dalam perayaan hari jadi Universitas Semarang (USM) tahun ini. Momentum Dies Natalis USM yang ke-39 dimeriahkan oleh aksi kreatif sekelompok mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi yang menggelar kampanye pelestarian budaya bertajuk “Ruang Aksara”. Gerakan yang mengolaborasikan sub-kegiatan “Suluh Aksara” dan “Swara Aksara” ini berlangsung meriah di area depan GOR Universitas Semarang mulai sekitar pukul 06.30 WIB. Langkah ini diambil untuk memantik kembali kecintaan generasi muda terhadap kebudayaan daerah yang kian tergerus zaman.
Di tengah gempuran modernisasi, budaya membaca puisi serta menulis aksara Jawa kini dinilai semakin kehilangan panggung dan hanya kerap dijumpai pada momen-momen tertentu saja. Melalui pendekatan yang segar, para mahasiswa Ilmu Komunikasi USM ini mencoba mendobrak batasan tersebut. Mereka mengemas pengenalan budaya lewat stan edukatif hingga tantangan interaktif yang berhasil menjangkau ratusan penonton di media sosial. Di lokasi acara, atmosfer antusiasme begitu terasa saat jajaran yayasan, rektorat, dosen, karyawan, mahasiswa, hingga warga sekitar melebur untuk ikut berpartisipasi.
Ariel, perwakilan panitia dari tim kampanye Ruang Aksara, membeberkan esensi utama di balik gerakan ini. Menurutnya, fokus utama mereka adalah mengenalkan kembali budaya yang eksistensinya kian luntur dari tahun ke tahun, yakni aksara Jawa dan puisi lama.
Suasana di depan GOR USM pun kian heboh saat para pengunjung ditantang secara langsung untuk menuliskan nama mereka menggunakan aksara Jawa atau melantunkan pantun berbahasa Jawa. Sejumlah partisipan mengaku sangat tertantang karena harus mengingat kembali pelajaran sekolah yang sudah lama ditinggalkan. Untuk mengapresiasi keberanian para peserta, panitia juga telah menyediakan berbagai hadiah menarik.
Novi, seorang mahasiswi Fakultas Psikologi USM yang berkunjung ke stan tersebut, mengaku sangat terkesan dengan konsep interaktif yang ditawarkan. Ia merasakan adanya atmosfer berbeda yang membuat hari Minggunya menjadi jauh lebih produktif. Baginya, tantangan menulis aksara Jawa ini memicu rasa penasaran yang tinggi untuk menguji ingatan pribadinya.
Novi menceritakan bagaimana ia menantang dirinya sendiri untuk tidak melihat panduan yang disediakan panitia, mengingat terakhir kali ia mempelajari aksara Jawa adalah saat duduk di bangku SMP. Ia menilai gerakan kreatif seperti ini sangat edukatif untuk mengingatkan generasi sekarang agar tetap peduli dengan tradisi sendiri.
Melalui kesan mendalam yang ditinggalkan bagi setiap pengunjung, gerakan Ruang Aksara membuktikan bahwa kebudayaan lama tetap bisa tampil memikat jika dikemas secara kreatif. Keberhasilan aksi ini pun memantik harapan baru bagi masa depan akademik dan lingkungan kampus.
Ke depannya, pihak Universitas Semarang diharapkan dapat terus memberikan ruang serta dukungan penuh terhadap upaya-upaya pelestarian budaya lokal semacam ini secara berkelanjutan. Dukungan nyata tersebut bisa diwujudkan lewat penyelenggaraan seminar akademik, lokakarya budaya, atau kegiatan mahasiswa lainnya secara rutin, sehingga tongkat estafet tradisi leluhur tidak akan pernah terputus di tangan generasi mendatang.
