Mahasiswa KKN PPM XXVIII USM Gelar Edukasi Kesehatan Reproduksi dan Pencegahan Kekerasan Seksual dari Perspektif Psikologi bagi Remaja Beringin

SEMARANG – Tiara Yuniati Ningtyas, mahasiswa Program Studi Psikologi Universitas Semarang (USM) yang tergabung dalam Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN PPM) XXVIII, menyelenggarakan kegiatan edukasi bertajuk “Kesehatan Reproduksi dan Pencegahan Kekerasan Seksual dari Perspektif Psikologi” pada Sabtu (18/7/2026). Bertempat di Balai RT 10 RW 03 Kelurahan Beringin, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, acara ini ditujukan untuk membekali anak-anak dan remaja setempat dengan pengetahuan kesehatan reproduksi serta kemampuan mengenali dan mencegah potensi kekerasan seksual di lingkungan sekitar.

Inisiatif ini lahir dari keprihatinan atas minimnya pemahaman anak dan remaja di wilayah RW 03 mengenai kesehatan reproduksi serta pencegahan kekerasan seksual. Isu-isu ini kerap kali dianggap tabu untuk didiskusikan secara terbuka, sehingga anak-anak dan remaja kehilangan ruang aman untuk bertanya maupun melapor jika menemui atau mengalami hal yang membahayakan.

Dalam pelaksanaannya, Tiara menggandeng Karang Taruna RW 03 Panamas sebagai mitra untuk menjangkau peserta secara lebih luas. Kegiatan ini diikuti oleh 15 peserta yang terdiri dari anak-anak dan remaja berusia 10–18 tahun serta anggota Karang Taruna Panamas. Acara dimulai pukul 10.00 WIB dan dibuka langsung oleh penyelenggara yang memaparkan pentingnya bekal edukasi tersebut bagi masa depan generasi muda.

Rangkaian edukasi ini dikemas ke dalam empat tahap utama. Sesi pertama diawali dengan pengantar dari penyelenggara mengenai latar belakang dan tujuan acara. Pada sesi kedua, peserta diajak memahami kesehatan reproduksi secara mendasar, meliputi pengenalan organ reproduksi, dinamika perubahan fisik pada masa pubertas, hingga kebiasaan menjaga kebersihan serta kesehatan tubuh sejak dini.

Memasuki sesi ketiga, pembahasan ditinjau dari kacamata psikologi. Peserta dibekali pemahaman mengenai pola-pola manipulatif serta tanda bahaya (warning signs) dalam suatu hubungan sosial. Materi ini menekankan pentingnya keberanian untuk bersuara dan bercerita kepada orang dewasa yang dipercaya, sekaligus mengenalkan dampak psikologis yang dialami korban serta bagaimana memberikan dukungan pemulihan yang tepat.

Sebagai penutup, kegiatan diakhiri dengan sesi diskusi dan tanya jawab interaktif. Peserta memanfaatkan ruang ini untuk mengajukan pertanyaan dan berbagi pandangan, sehingga materi yang telah disampaikan dapat dipahami secara lebih mendalam dan utuh.

Melalui edukasi ini, anak-anak dan remaja di RW 03 Kelurahan Beringin diharapkan memiliki bekal yang cukup untuk menjaga kesehatan tubuhnya, sekaligus lebih peka serta berani mengambil sikap tegas terhadap potensi kekerasan seksual di lingkungan sekitar.

Pos terkait