SEMARANG, 24 MEI 2026 – Sebagai bentuk respons terhadap meningkatnya fenomena perundungan (bullying) yang semakin kompleks di lingkungan sosial, mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi menginisiasi kampanye sosial bertajuk “Bullying Bukan Bercanda”. Kegiatan ini dilaksanakan di Pos PAUD Ceria Bandarharjo pada Sabtu, 23 Mei 2026, pukul 14.00–16.00 WIB.
Kampanye yang menyasar anak-anak usia 7–12 tahun ini digelar berkolaborasi dengan Komunitas SULBI (Komunitas Anak Luar Biasa). Langkah kolaboratif ini diambil sebagai upaya nyata untuk membangun pemahaman sejak dini mengenai pentingnya sikap saling menghargai dan menghormati perbedaan.
Ketua Pelaksana Kegiatan, Averil Mabelimiatilda, memimpin jalannya program ini bersama 11 anggota mahasiswa Ilmu Komunikasi lainnya. Melalui narasi edukatif bertema “Bullying Bukan Bercanda, Semua Berhak Dihargai,” tim mahasiswa berupaya memberikan edukasi dasar terkait interaksi sosial yang sehat, kesadaran gender, serta penghargaan terhadap sesama tanpa memandang latar belakang maupun kondisi fisik. Program ini juga bertujuan mendekonstruksi anggapan bahwa tindakan mengejek, merendahkan, atau mengintimidasi merupakan hal lumrah dalam pergaulan.
Dosen pengampu kegiatan, Dr. Yuliyanto Budi Setiawan, S.Sos., M.Si., memberikan apresiasi serta dukungan penuh terhadap inisiasi yang dilakukan oleh para mahasiswa ini. “Melalui kegiatan ini, saya berharap adik-adik peserta dapat memperoleh pemahaman baru tentang pentingnya saling menghargai, menghindari bullying, dan memahami perubahan diri secara positif, semoga kegiatan seperti ini bisa kami kembangkan lebih masif dan memberikan dampak besar untuk masyarakat,” ujarnya.
Dalam perspektif ilmu komunikasi, fenomena bullying tidak sekadar dilihat sebagai tindakan agresif fisik, melainkan sebagai kegagalan dalam proses transaksional pesan yang sehat. Di tengah arus globalisasi dan digitalisasi, bentuk perundungan bertransformasi menjadi lebih subtil, sering kali menyasar aspek identitas, gender, dan status minoritas. Ketidakhadiran empati dalam komunikator sosial menyebabkan distorsi pesan, di mana ‘bercanda’ (joking) kerap digunakan sebagai mekanisme pertahanan untuk melegitimasi tindakan penindasan simbolik.
Kampanye ini juga dilatarbelakangi oleh maraknya kasus perundungan di kalangan remaja yang dipicu oleh rendahnya pemahaman mengenai seks dan gender dasar. Minimnya edukasi terkait perbedaan biologis dan identitas diri kerap memunculkan ejekan fisik hingga stereotip gender. Melalui kegiatan ini, mahasiswa menegaskan bahwa edukasi tersebut bukanlah hal tabu, melainkan pengetahuan krusial agar stigma terhadap penampilan fisik maupun ekspresi diri dapat diminimalkan sejak dini.
Hadir sebagai narasumber utama dari PKBI Jawa Tengah, Rei Hapsari Oktaviana dan Syifa Hanna Maulina. Mereka menyampaikan bahwa stereotip gender dan kebiasaan menilai seseorang dari fisik masih menjadi faktor utama bullying. Dalam sesi interaktif, Rei Hapsari memberikan pertanyaan reflektif mengenai perubahan fisik alami pada fase tumbuh kembang anak laki-laki untuk menanamkan pemahaman bahwa perbedaan fisik bukanlah bahan ejekan.
Dalam pemaparan materi yang disampaikan juga oleh Agave Gaza Priadmaja, dijelaskan bahwa setiap bentuk interaksi sosial, baik melalui perkataan, candaan, maupun komentar terhadap penampilan fisik dan karakter seseorang, dapat memberikan pengaruh besar terhadap kondisi psikologis remaja. Ucapan yang kerap dianggap sebagai gurauan sederhana, seperti ejekan mengenai bentuk tubuh, warna kulit, cara berpakaian, hingga ekspresi diri seseorang, berpotensi berkembang menjadi tindakan kekerasan verbal yang berdampak pada menurunnya rasa percaya diri, munculnya tekanan emosional, serta terganggunya kesehatan mental korban.
Dalam pelaksanaannya, kampanye ini memanfaatkan berbagai media komunikasi, seperti poster edukasi, infografis, dan diskusi interaktif, guna menyampaikan pesan secara informatif dan mudah dipahami oleh remaja maupun masyarakat umum. Pemilihan bahasa yang komunikatif dan dekat dengan kehidupan sehari-hari diharapkan mampu meningkatkan efektivitas penyampaian pesan serta membangun kesadaran kolektif mengenai pentingnya menciptakan lingkungan sosial yang lebih suportif.
Mahasiswa Ilmu Komunikasi berharap kampanye ini dapat menjadi langkah awal dalam menumbuhkan budaya saling menghargai di kalangan remaja. Bullying tidak lagi dipandang sebagai sekadar candaan, melainkan sebagai tindakan yang dapat menimbulkan dampak psikologis jangka panjang bagi korban. Melalui edukasi mengenai seks dan gender dasar, remaja diharapkan mampu memahami pentingnya menjaga etika komunikasi, menghormati batasan pribadi, serta mengurangi perilaku merendahkan orang lain berdasarkan fisik maupun identitasnya.
Sebagai penutup rangkaian kegiatan, kampanye sosial ini ditandai dengan penyampaian yel-yel anti perundungan yang diikuti secara antusias oleh seluruh peserta sebagai bentuk komitmen bersama dalam menciptakan lingkungan yang lebih ramah, aman, dan saling menghargai. Suasana kegiatan berlangsung hangat dan penuh semangat, kemudian dilanjutkan dengan sesi dokumentasi bersama pihak SULBI, PKBI, mahasiswa pelaksana, serta dosen pengampu sebagai simbol kolaborasi dalam mendukung edukasi sosial bagi anak-anak.
Melalui pelaksanaan kampanye ini, penyelenggara berharap pesan mengenai pentingnya menghormati perbedaan, menjaga sikap dalam berinteraksi, serta menolak segala bentuk perundungan dapat tertanam sejak usia dini. Selain menjadi sarana edukasi, kegiatan ini juga diharapkan mampu membangun kesadaran anak-anak untuk lebih peduli terhadap sesama, sehingga tercipta lingkungan belajar dan pergaulan yang positif, inklusif, serta mendukung tumbuh kembang anak
