Oleh: Tibyani
- CEO Tetenger Bumi UB
- Ketua Smart Green Campus FILKOM UB
- Anggota Laboratorium Learning Technology, FILKOM UB.
Menjelang peringatan 81 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 2026, Bangsa ini kembali diajak merenungkan makna kemerdekaan yang sesungguhnya. Kemerdekaan bukan hanya warisan para pendiri bangsa yang harus dikenang, tetapi juga amanah yang harus diterjemahkan menjadi tindakan nyata untuk masa depan. Pertanyaan pentingnya adalah: warisan seperti apa yang akan kita tinggalkan kepada anak cucu Indonesia?
Dalam kajian numerologi internasional, angka 81 memiliki makna yang menarik. Angka ini tersusun dari angka 8 yang melambangkan kekuatan (strength), kemakmuran (prosperity), kepemimpinan (leadership), dan kemampuan membangun system (ability to build systems), serta angka 1 yang melambangkan KeTuhanan Yang Maha Esa, inovasi (Inovation), keberanian memulai perubahan (The courage to initiate change), dan semangat menjadi pelopor (the spirit of leadership). Ketika dijumlahkan, 8 + 1 menghasilkan angka 9 yang dalam banyak tradisi numerologi melambangkan pengabdian kepada kemanusiaan, kepedulian sosial, dan warisan bagi generasi mendatang. Dengan demikian, angka 81 dapat dimaknai sebagai simbol kepemimpinan yang menghasilkan manfaat bagi banyak orang dan meninggalkan jejak kebaikan yang berkelanjutan.
Makna tersebut terasa relevan dengan perjalanan Bangsa Indonesia yang memasuki usia ke-81 tahun. Setelah lebih dari delapan dekade merdeka, Indonesia tidak lagi hanya dituntut untuk tumbuh secara ekonomi, tetapi juga harus mampu membangun peradaban yang berkelanjutan. Salah satu tantangan terbesar abad ke-21 adalah perubahan iklim, kerusakan lingkungan, dan meningkatnya jejak karbon akibat aktivitas manusia. Karena itu, kemerdekaan masa kini tidak cukup dimaknai sebagai bebas dari penjajahan fisik, tetapi juga harus diwujudkan dalam kemampuan menjaga bumi sebagai rumah bersama.
Di tengah tantangan tersebut, lahirlah berbagai gerakan yang berupaya menghubungkan pembangunan dengan pelestarian lingkungan. Salah satunya adalah Tetenger Bumi Universitas Brawijaya (UB) yang dipelopori oleh Dr. Tibyani, S.T., M.T. Dalam bahasa Jawa, “Tetenger” berarti tanda atau penanda. Tetenger Bumi UB merupakan ikhtiar meninggalkan tanda kebaikan di bumi melalui konservasi lingkungan, pelestarian sumber daya air, penanaman pohon, pendidikan masyarakat, serta pemanfaatan teknologi informasi.
Sejak dirintis pada tahun 2017, Tetenger Bumi berkembang dari gerakan penghijauan menjadi sebuah gerakan peradaban. Ribuan pohon telah ditanam di berbagai wilayah Jawa Timur, mulai dari daerah tangkapan air, kawasan lereng pegunungan, desa-desa terpencil, hingga lingkungan perkotaan. Pohon-pohon tersebut bukan hanya berfungsi menyerap karbon dan menjaga ketersediaan air, tetapi juga menjadi simbol harapan bagi generasi masa depan.
Namun, yang membuat Tetenger Bumi UB berbeda adalah keberaniannya menggabungkan konservasi lingkungan dengan Teknologi Tnformasi. Di era digital, pelestarian alam tidak dapat dilakukan hanya dengan semangat dan niat baik. Dibutuhkan data, sistem informasi, kecerdasan buatan, Internet of Things (IoT), dan kolaborasi lintas sektor agar dampaknya lebih luas dan terukur.
Gagasan ini sejalan dengan perkembangan penelitian di bidang kecerdasan buatan yang dilakukan oleh Tibyani, dkk. dan para akademisi UB. Salah satu contohnya adalah jurnal internasional berjudul Learning-Advisory System Based on Students’ Similarity yang ditulis oleh Tibyani, Ahmad Afif Supianto, Syaiful Anam, Ni Wayan Surya Wardhani, dan Pitoyo Hartono pada tahun 2025. Penelitian tersebut mengembangkan sistem penasihat belajar berbasis kemiripan perilaku siswa menggunakan pendekatan kecerdasan buatan.
Secara sederhana, Sistem tersebut mampu mengidentifikasi siswa yang memiliki karakteristik belajar serupa, kemudian memberikan rekomendasi berdasarkan pengalaman siswa lain yang lebih berhasil. Konsep ini menunjukkan bahwa TI tidak hanya berfungsi untuk menghitung atau mengotomatisasi pekerjaan, tetapi juga dapat digunakan untuk membantu manusia mengambil keputusan yang lebih baik.
Apabila konsep tersebut diperluas, bukan tidak mungkin lahir berbagai sistem penasihat berbasis AI untuk Lingkungan Hidup. Bayangkan suatu saat terdapat Environmental Advisory System yang mampu memantau kondisi pohon, sumber mata air, kualitas udara, hingga potensi bencana secara real-time. Sistem tersebut dapat memberikan rekomendasi kepada pemerintah, masyarakat, dan generasi muda tentang langkah terbaik untuk menjaga lingkungan. Dengan demikian, kecerdasan buatan tidak hanya menjadi teknologi masa depan, tetapi juga menjadi alat untuk menjaga keberlanjutan kehidupan.
Menjelang usia ke-81 Republik Indonesia, harapan terbesar kita bukan sekadar melihat gedung yang semakin tinggi, jalan yang semakin panjang, atau teknologi yang semakin canggih. Harapan yang lebih penting adalah melihat anak cucu kita masih dapat menikmati udara yang bersih, air yang jernih, tanah yang subur, dan hutan yang lestari. Mereka berhak menerima warisan yang lebih baik daripada yang kita terima hari ini.
Para pendiri bangsa telah mewariskan kemerdekaan kepada kita. Tugas generasi sekarang adalah mewariskan keberlanjutan kepada generasi berikutnya. Menanam pohon, menjaga sumber air, mengembangkan teknologi ramah lingkungan, memperkuat pendidikan, serta membangun budaya gotong royong merupakan bentuk nyata pengisian kemerdekaan yang relevan dengan tantangan zaman.
Angka 81 mengingatkan kita bahwa kekuatan dan kepemimpinan harus bermuara pada pengabdian. Semangat itulah yang tercermin dalam Tetenger Bumi UB dan berbagai inovasi teknologi yang lahir dari perguruan tinggi Indonesia. Ketika ilmu pengetahuan, Teknologi Informasi, dan kepedulian lingkungan berjalan bersama, maka kemerdekaan tidak hanya dirasakan oleh generasi saat ini, tetapi juga oleh anak cucu yang akan datang.
Menjelang 81 tahun Indonesia merdeka, marilah kita meninggalkan tetenger terbaik untuk negeri ini: pohon yang tumbuh, ilmu yang bermanfaat, teknologi yang memuliakan manusia, dan lingkungan yang lestari. Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah generasi bukanlah seberapa banyak yang diwariskan kepada anak-anaknya, melainkan seberapa baik bumi yang ditinggalkannya untuk mereka. Dirgahayu Republik Indonesia ke-81. Merdeka! Merdekaa! Merdekaaa!
By. : TibyaniUB.
