KUDUS – Sebagai wujud kepedulian terhadap potensi ekonomi desa, puluhan warga Dukuh Badongan, Desa Tumpangkrasak, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus berkumpul bersama jajaran perangkat desa pada Selasa, 18 Agustus 2026. Kehadiran mereka tak lain untuk mengikuti pelatihan pengolahan limbah tahu yang digagas oleh para mahasiswa KKN Posko 53 UIN Kudus. Melalui pemaparan teori hingga peragaan langsung di lapangan, tim mahasiswa membagikan formula olahan ampas tahu menjadi keripik renyah. Resep ini sebelumnya telah melewati serangkaian uji coba mandiri demi memastikan cita rasa serta tekstur yang pas sebelum dipraktikkan langsung di hadapan warga.
Selama rangkaian agenda berlangsung, warga setempat memperlihatkan antusiasme yang luar biasa. Rasa ingin tahu mereka terpancar saat memperhatikan setiap tahapan pembuatan keripik gurih tersebut. Banyak peserta yang tidak sekadar menyimak materi, tetapi juga langsung berdiskusi dan menyatakan ketertarikannya untuk mencoba resep baru ini secara mandiri di dapur rumah masing-masing.
Langkah inovatif ini pun mendapat sambutan hangat dari para pelaku usaha lokal, salah satunya Sukamto selaku pemilik pabrik tahu di wilayah tersebut. Ia menilai terobosan ini sangat aplikatif dan memberikan sudut pandang baru bagi masyarakat sekitar.
“Saya sangat suka dengan adanya pelatihan dari KKN 53 ini karena sangat bermanfaat bagi masyarakat. Ampas tahu yang selama ini hanya dimanfaatkan sebagai pakan ternak ternyata bisa diolah menjadi keripik yang memiliki nilai jual,” tuturnya.
Inovasi olahan berbahan dasar sisa produksi tahu ini diyakini mampu menjadi motor penggerak perekonomian warga jika digarap secara telaten. Peluang usaha baru ini menyimpan potensi besar untuk diangkat sebagai komoditas kuliner unggulan daerah.
“Kalau diolah dengan baik dan pemasarannya bisa lebih luas, keripik ampas tahu ini bisa diperjualbelikan, bahkan bisa menjadi makanan khas dari Desa Tumpangkrasak, khususnya Dukuh Badongan,” tambah Sukamto.
Menutup seluruh rangkaian kegiatan, kelompok KKN 53 menaruh harapan besar agar masyarakat tak lagi memandang ampas tahu sebatas pakan ternak tak bernilai tinggi. Demi menjaga keberlanjutan produk di pasaran, tahapan pendampingan berikutnya seperti variasi rasa, desain kemasan yang menarik, legalitas merek, hingga strategi pemasaran digital perlu terus dikembangkan bersama demi memajukan perekonomian Desa Tumpangkrasak.
