SEMARANG – Sebanyak lima mahasiswa Program Studi Teknik Informatika Universitas Semarang (USM) berhasil melaju ke ajang Apple Foundation Program 2026 yang berlangsung di Universitas Ciputra Surabaya mulai 19 Oktober hingga 13 November 2026. Kelima mahasiswa yang membawa nama harum kampus tersebut adalah Mickael William, Reino Avansatria, Wahyu Arifin Hidayat, Ananda Bagus S., dan Riski Dafa S. Keberhasilan ini menjadi bukti nyata kapasitas serta daya saing mahasiswa USM dalam merambah ranah pengembangan teknologi digital nasional.
Dilansir dari Mediawartakencana.com, Ketua Program Studi Teknik Informatika USM, Dr. Astrid Novita Putri, S.Kom., M.Kom., menyampaikan apresiasi yang mendalam atas capaian anak didiknya. Menurutnya, prestasi ini menjadi pemantik semangat bagi pihak program studi untuk terus memfasilitasi mahasiswa dalam meraih pengalaman belajar langsung di luar kampus.
”Kami sangat bangga dan bersyukur atas diterimanya mahasiswa Teknik Informatika Universitas Semarang dalam Apple Foundation Program 2026. Pencapaian ini menunjukkan bahwa mahasiswa USM memiliki potensi, kemauan belajar, dan daya saing untuk mengikuti program pengembangan kompetensi yang diselenggarakan oleh mitra industri teknologi,” ucapnya.
Apple Foundation Program sendiri merupakan pelatihan intensif yang dirancang khusus untuk mengenalkan ekosistem pembuatan aplikasi besutan Apple. Selama berada di Surabaya, para peserta digembleng secara luring setiap Senin hingga Jumat pukul 08.00–12.00 WIB untuk menguasai bahasa pemrograman Swift, merancang antarmuka serta pengalaman pengguna (UI/UX), hingga menyusun prototipe aplikasi iOS.
”Program ini dirancang untuk memperkenalkan bahasa pemrograman Swift, konsep desain antarmuka dan pengalaman pengguna (user interface/user experience atau UI/UX), serta pembuatan prototipe aplikasi iOS,” jelas Astrid.
Untuk bisa lolos, kelima mahasiswa tersebut harus melalui rangkaian seleksi ketat dari pihak penyelenggara, mulai dari kelengkapan berkas administrasi, menjawab pertanyaan teknis, hingga menyanggupi komitmen untuk hadir secara penuh selama program berjalan. Menariknya, keikutsertaan dalam pelatihan berbasis microcredential ini juga berpotensi dikonversi hingga maksimal 10 SKS sesuai aturan akademik kampus. Hal ini sejalan dengan langkah strategis prodi untuk menyambungkan kurikulum kuliah dengan dinamika industri digital masa kini.
Guna mengoptimalkan kesempatan langka ini, pihak program studi berharap para peserta dapat memanfaatkannya untuk memperluas jejaring serta menghasilkan inovasi yang solutif.
”Kami berharap, para peserta mampu mengikuti kegiatan dengan disiplin, aktif berkolaborasi, terbuka terhadap masukan, serta berani mencoba pendekatan baru. Selain itu mereka juga mampu menghasilkan prototipe atau karya yang tidak hanya menarik secara teknis, tetapi juga menjawab kebutuhan pengguna,” pungkas Astrid sembari berharap ilmu yang didapat nantinya bisa dibagikan kepada rekan-rekan mahasiswa lain di USM.






