SEMARANG – Aksi unjuk rasa besar-besaran pecah di kawasan Silayur, Ngaliyan, Kota Semarang, pada Selasa sore (14/4/2026). Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam keluarga besar UIN Walisongo Semarang turun ke jalan tepat saat puncak arus komuter pukul 17.30 WIB, mengubah jalur penghubung Semarang-Mijen tersebut menjadi medan protes. Massa tidak hanya sekadar berorasi tetapi juga sempat memblokade arus lalu lintas sebagai simbol kemarahan atas lambatnya respons pemerintah daerah dalam membenahi sistem keamanan di titik yang kerap dijuluki sebagai “jalur maut” tersebut.
“Kami sudah muak hanya menonton nyawa melayang di sini. Silayur ini bukan sekadar jalan raya tapi bom waktu bagi setiap pengendara yang lewat,” ujar Ahmad, salah satu pendemo.
Ahmad menegaskan bahwa aksi ini dipicu oleh kecelakaan fatal yang kembali terjadi akibat kontur jalan curam dan tikungan tajam yang tidak dibarengi dengan infrastruktur keamanan memadai. Menurutnya, minimnya rambu lalu lintas dan alat pengaman jalan sangat tidak sebanding dengan tingginya intensitas kendaraan berat yang melintas setiap harinya.
Sembari membentangkan spanduk bertuliskan “Nyawa Hanyalah Angka di mata walikota” dan “Semua Bisa Jadi Korban, Ngaliyan Bersatu Wani Ngeyel”, para demonstran mendesak pihak terkait untuk segera melakukan evaluasi total. Ahmad juga menyatakan bahwa solusi setengah hati dari pemerintah selama ini hanya menambah daftar panjang korban.
“Tiap kali ada laka, bilangnya akan diperbaiki, tapi truk-truk raksasa tetap bebas melintas di jam sibuk. Kami menuntut aturan tegas pelarangan kendaraan berat saat mobilitas warga sedang tinggi. Jangan tunggu keluarga pejabat yang jadi korban baru bertindak,” tambahnya.
Aksi ini pun melumpuhkan arus lalu lintas di kawasan Ngaliyan, menyebabkan kemacetan panjang yang mengular hingga beberapa kilometer. Petugas kepolisian tampak bekerja keras mengalihkan arus kendaraan sementara mahasiswa terus menyuarakan tuntutan mereka akan perbaikan sistem keselamatan jalan yang lebih modern. Meski situasi sempat menegang akibat kemacetan total, massa tetap tertib menyampaikan aspirasi mereka hingga menjelang petang. Mereka mengancam akan membawa gelombang massa yang lebih besar ke kantor pemerintahan jika dalam waktu dekat tidak ada langkah nyata untuk menjinakkan tanjakan Silayur yang selama ini menjadi momok menakutkan bagi warga Semarang.






