SEMARANG – Monitoring dan Evaluasi (Monev) program promosi kesehatan mental garapan Tim Pengabdian Universitas Negeri Semarang (UNNES) resmi digelar di Desa Ketapang, Kecamatan Susukan, Kabupaten Semarang, pada Sabtu (29/8/2026). Peninjauan ini ditujukan untuk melihat sejauh mana capaian program, membedah tantangan teknis di lapangan, sekaligus merancang rekomendasi strategis demi menjaga keberlanjutan gerakan di tingkat lokal.
Pengabdian bertajuk “Optimalisasi Peran Tim DSSJ dalam Promosi Kesehatan Mental Multikanal Berbasis Kearifan Lokal untuk Mewujudkan Desa Inklusif di Ketapang” ini diketuai oleh Zakki Nurul Amin, S.Pd., M.Pd. Kegiatan Monev tersebut sekaligus mempertegas keberlanjutan pendampingan Desa Siaga Sehat Jiwa (DSSJ) yang telah diinisiasi sejak 2023 lewat pembentukan Tim Peduli Jiwa Sehat.
Forum evaluasi yang berlangsung interaktif ini mempertemukan berbagai instansi dan elemen masyarakat. Hadir dalam kesempatan tersebut Kepala Desa Ketapang Muhammad Ni’am, S.T., perwakilan Puskesmas Susukan, Ketua Tim Peduli Jiwa Sehat Taufiq Nurrahman bersama jajarannya, tokoh agama, tokoh masyarakat, hingga perwakilan keluarga orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Sebelumnya, tim pengabdian telah memfasilitasi pelatihan peningkatan kapasitas bagi 12 anggota kader desa, menggelar Focus Group Discussion (FGD), serta mendampingi penyusunan rencana kerja operasional yang akan menjadi acuan utama pergerakan Tim DSSJ di lapangan.
Penyebaran wawasan kesehatan jiwa difokuskan lewat strategi multikanal yang memadukan pendekatan kultural dan teknologi modern. Sosialisasi disisipkan secara natural ke dalam kegiatan rutin warga, seperti majelis pengajian, pertemuan RT/RW, dan aksi kerja bakti. Di sisi lain, jangkauan informasi diperluas melalui pembuatan 10 materi infografis edukasi digital serta peresmian Pojok Literasi Kesehatan Mental di balai desa dan posyandu agar mudah diakses oleh seluruh lapisan warga.
Berdasarkan hasil evaluasi, terjadi pemahaman yang kian mendalam di kalangan anggota Tim DSSJ terkait cara mempromosikan kesehatan mental dan menekan stigma negatif ODGJ. Diskusi mengenai isu kesehatan jiwa pun mulai hangat dibahas dalam pertemuan-pertemuan kemasyarakatan, seiring kian solidnya kolaborasi antara kader desa, pemerintah desa, dan Puskesmas. Kendati demikian, Monev mencatat beberapa area peningkatan, seperti perlunya pendampingan implementasi rencana kerja secara konsisten, penguatan keterampilan pembuatan konten digital, serta perluasan jangkauan edukasi hingga ke wilayah pelosok dusun.
Dukungan penuh disampaikan oleh Pemerintah Desa Ketapang dengan rencana memasukkan program kesehatan mental ke dalam skema perencanaan pembangunan desa. Kepala Desa Ketapang, Muhammad Ni’am, S.T., menegaskan keberlanjutan inisiatif ini.
“Kami berkomitmen untuk menjadikan Desa Ketapang sebagai desa inklusif yang peduli terhadap kesehatan mental warganya. Program ini harus terus berlanjut.” Ujar Muhammad Ni’am, S.T.
Mengacu pada Sustainable Development Goals (SDGs) poin 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) serta poin 10 (Pengurangan Kesenjangan), Zakki Nurul Amin menegaskan bahwa Prodi BK UNNES akan terus mendampingi warga lewat peningkatan kapasitas kader, partisipasi publik, dan penguatan jaringan layanan berbasis komunitas.






