Siasati Era Digital, Mahasiswa USM Gelar Kampanye Sastra ‘SULUH AKSARA’

SEMARANG – Di tengah pesatnya perkembangan teknologi modern, eksistensi sastra tradisional seperti puisi kian menghadapi tantangan besar untuk tetap diminati oleh generasi muda. Guna menjawab tantangan tersebut, mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Semarang (USM) menggelar kampanye sastra bertajuk “SULUH AKSARA” di taman depan Gedung FTIK Universitas Semarang, Senin (8/6/2026) sore.

Mengusung tagline “Nyalakan Sebelum Gelap Datang”, kegiatan yang dimulai pada sekitar pukul 16.30 WIB ini berkomitmen untuk menghadirkan kembali ruang apresiasi sastra. Melalui kampanye ini, panitia berupaya mengenalkan sekaligus melestarikan puisi agar tetap menjadi sarana pembelajaran, refleksi, dan penyampaian nilai kehidupan bagi masyarakat di era digital.

Acara ini menarik antusiasme besar dari orang-orang sekitar kampus, puluhan bahkan lebih audiens dari berbagai kalangan di lingkungan kampus, yang ikut serta mendengarkan pembacaan puisi.

Sebelum memasuki acara puncak, panitia menggelar tantangan menulis puisi yang bersifat terbuka untuk umum. Puisi-puisi yang terpilih kemudian dibacakan langsung di hadapan audiens yang memadati area taman. Tidak hanya itu, penonton yang hadir juga diajak menulis puisi secara spontan di lokasi, di mana hasil karya mereka kemudian dipajang pada majalah dinding (mading) agar dapat dinikmati oleh seluruh pengunjung.

Salah seorang penonton, Zaky, memberikan apresiasi positif terhadap inisiatif ini. Menurutnya, kegiatan ini sangat bermanfaat untuk memperluas cakrawala mahasiswa terhadap dunia sastra yang kian tergerus zaman.

“Kegiatan ini memberikan banyak manfaat untuk menambah wawasan mahasiswa di sekitar kampus mengenai puisi. Saat ini minat terhadap puisi mulai berkurang, sehingga kampanye seperti ini dapat meningkatkan kembali minat terhadap karya sastra,” ujar Zaky.

Senada dengan Zaky, penonton lain bernama Wanda juga mengaku sangat menikmati jalannya acara. Ia merasakan kedalaman emosi dari karya-karya yang disajikan.

“Saya menikmati acara tadi. Suasananya tenang dan puisi yang dibacakan juga bagus. Tidak salah jika tiga puisi yang dibacakan menjadi yang terbaik. Ketika panitia membacakan puisi, saya merasa lebih semangat dan emosi saya ikut terbawa,” kata Wanda.

Melalui keberhasilan penyelenggaraan SULUH AKSARA ini, pihak panitia berharap ruang-ruang apresiasi serupa dapat terus terjaga dan berkelanjutan, sehingga puisi tetap dikenal serta diwariskan kepada generasi berikutnya di tengah gempuran arus hiburan digital yang instan.

Pos terkait