SUKOHARJO – Upaya mengenalkan konsep ketahanan pangan sejak usia dini dilakukan melalui pendekatan edukatif dan menyenangkan oleh Program Studi Teknologi Rekayasa Pangan, Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Duta Bangsa Surakarta. Pada Rabu, 29 April 2026.
Laela Nur Rokhmah, S.TP., M.Sc., dosen Program Studi Teknologi Rekayasa Pangan, menggelar edukasi bertajuk “Mengenal Ketahanan Pangan Melalui Teknologi Pangan untuk Siswa SD” di SDN 1 Bakalan Polokarto.
Kegiatan ini diikuti dengan antusias oleh siswa kelas 1 hingga kelas 6 yang diajak belajar memahami pentingnya pangan, proses pengolahan bahan pangan, serta konsep pengawetan pangan melalui praktik langsung membuat Keripik pisang dari bahan baku Pisang kepok.
Dalam kegiatan praktik, siswa dikenalkan pada tahapan sederhana pengolahan pangan, mulai dari pemilihan bahan baku, teknik pengirisan, hingga proses penggorengan. Anak-anak diberi kesempatan mengiris pisang secara langsung dan mengamati bagaimana ketebalan dan ketipisan irisan pisang memengaruhi tekstur, tingkat kerenyahan, warna produk, serta lama waktu penggorengan.
“Melalui kegiatan sederhana seperti membuat keripik pisang, anak-anak sebenarnya sedang belajar sains pangan. Mereka memahami bahwa setiap proses pengolahan bahan makanan akan memengaruhi hasil akhir, baik dari segi tekstur, rasa, warna, maupun daya simpannya. Inilah bentuk pengenalan teknologi pangan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari,” ujar Laela Nur Rokhmah.
Tidak hanya praktik pengolahan, siswa juga diajak mengeksplorasi uji sensori melalui pengamatan rasa pada keripik pisang asin dan manis. Dalam sesi interaktif tersebut, anak-anak diminta mengenali perbedaan cita rasa, tekstur, dan preferensi mereka terhadap produk. Dari diskusi sederhana itu, siswa mulai memahami bahwa rasa asin berasal dari penambahan garam, sementara rasa manis terbentuk melalui penambahan gula, yang keduanya mampu memberikan karakter sensori berbeda pada produk pangan yang sama.
Suasana belajar berlangsung aktif dan menyenangkan. Para siswa tampak antusias saat mencoba mengiris pisang, menjawab pertanyaan, serta menyampaikan hasil pengamatan mereka terhadap produk yang dihasilkan. Pendekatan praktik langsung ini tidak hanya meningkatkan pemahaman, tetapi juga melatih soft skill anak, seperti keberanian mencoba, ketelitian, kerja sama, komunikasi, dan kemampuan berpikir kritis melalui pengamatan sederhana.
Menurut Laela, pengenalan ketahanan pangan perlu dimulai dari hal yang paling dekat dengan lingkungan anak.
“Ketahanan pangan bukan hanya bicara soal ketersediaan makanan, tetapi juga bagaimana kita mengenali bahan pangan lokal, memahami cara mengolahnya, serta memanfaatkan sumber daya di sekitar menjadi pangan bernilai tambah. Pisang adalah bahan yang sangat mudah ditemukan di lingkungan masyarakat, dan dari bahan sederhana ini anak-anak bisa belajar banyak hal tentang pangan, teknologi, dan kreativitas,” jelasnya.
Kegiatan edukasi ini menjadi bagian dari kontribusi akademisi Universitas Duta Bangsa Surakarta dalam menanamkan literasi pangan sejak dini. Melalui pembelajaran berbasis pengalaman langsung, siswa diharapkan semakin memahami pentingnya pengolahan pangan, menghargai bahan pangan lokal, serta tumbuh menjadi generasi yang sadar akan pentingnya ketahanan pangan untuk masa depan.
Kenalkan Ketahanan Pangan kepada Siswa SD melalui Praktik Pembuatan Keripik Pisang






