SEMARANG – Memadukan keahlian teknis laboratorium dengan kerumitan birokrasi pemerintahan bukanlah perkara mudah. Namun, hal tersebut berhasil dibuktikan oleh Emmy Noviarini Ningtyas, S.TP., M.P., seorang alumnus Program Studi Teknologi Hasil Pertanian (THP) Universitas Semarang (USM) angkatan 2009.
Lulus S1 pada 2013, Emmy langsung menorehkan rekam jejak riset industri sebagai peneliti R&D Agro and Fishery di Pura Group Kudus selama dua tahun. Setelah itu, ia melanjutkan pengabdiannya di sektor pemerintahan dengan bergabung di Kementerian Pertanian Republik Indonesia sejak 2015 dan kini bertugas di Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Kupang. Tak berhenti di sana, ia juga telah menyelesaikan S2 di Universitas Brawijaya (UB) dan saat ini tengah merampungkan studi S3 Ilmu Pertanian di Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta.
Perjalanan karier Emmy menunjukkan kelincahan seorang profesional yang mampu bergerak lintas sektor. Di ranah publik, ia tidak hanya terlibat dalam perumusan kebijakan penyuluhan pertanian berbasis digital, tetapi juga pernah dipercaya mengemban amanah sebagai Kepala Subbagian Keuangan serta menjadi trainer analisis keuangan APBN. Keahlian teknisnya kini makin terasah lewat riset doktoralnya yang bertajuk Proyek Plant90, sebuah penelitian fokus pada pengembangan material kemasan pangan ramah lingkungan (sustainable food packaging). Pengalaman multi-bidang ini membentuk perspektifnya bahwa ilmu pangan modern tidak bisa berdiri sendiri tanpa pemahaman tata kelola dan efisiensi industri.
Mengenang awal perjalanan kariernya, Emmy membagikan cerita tentang masa transisi selepas lulus kuliah S1 di USM. Ia mengungkapkan bahwa bekal teori dan keterampilan praktis laboratorium yang didapatnya semasa kuliah sangat membantu saat memasuki dunia kerja, meski masa tunggu tetap menjadi proses belajar yang berharga.
“Setelah lulus S1 pada tahun 2013, saya membutuhkan waktu sekitar 6 – 7 bulan sampai mendapatkan pekerjaan pertama. Pekerjaan pertama saya adalah sebagai peneliti di Divisi Riset dan Teknologi Agro and Fishery, Pura Group, Kudus. Menurut saya, masa tunggu tersebut merupakan bagian dari proses yang juga memberikan pembelajaran,” ungkap Emmy.
Seiring berjalannya waktu, tuntutan kompetensi bagi para lulusan perguruan tinggi terus berkembang pesat dibanding satu dekade lalu. Jika dahulu fokus utama ada pada penguasaan teknis operasional, kini dunia kerja membutuhkan lulusan yang adaptif terhadap data dan teknologi digital. Mengenai perubahan tolok ukur ini, Emmy menjelaskan, “Jadi, kalau dulu kompetensi lulusan lebih banyak ditekankan pada ‘bisa mengerjakan’, sekarang tuntutannya berkembang menjadi ‘bisa mengerjakan, bisa menganalisis, bisa berinovasi, dan mampu memanfaatkan teknologi untuk menghasilkan solusi’.”
Oleh karena itu, ia menilai kurikulum pendidikan tinggi perlu terus memperkuat aspek analisis data, manajemen mutu, hingga literasi teknologi.
Dinamika zaman juga membawa tantangan baru, termasuk maraknya penggunaan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) di kalangan mahasiswa. Menanggapi kekhawatiran sebagian pihak bahwa AI dapat mengurangi daya kritis dan kreativitas mahasiswa, Emmy memiliki sudut pandang yang lebih terbuka. Menurutnya, keberadaan teknologi tidak untuk dihindari melainkan dimanfaatkan secara bijak.
“AI bukan menggantikan kemampuan berpikir, tetapi justru dapat menjadi alat bantu untuk memperluas dan memperkuat proses berpikir,” tambahnya.
Langkah Emmy melanjutkan studi S3 juga dilandasi oleh semangat untuk terus memberikan dampak positif bagi masyarakat dan bangsa. Bagi Emmy, gelar akademik bukanlah tujuan akhir, melainkan sarana untuk mempertajam pola pikir dan kapasitas pemecahan masalah.
“Pendidikan bukan hanya tentang mendapatkan gelar, tetapi juga tentang membangun cara berpikir, ketekunan, kemampuan memecahkan masalah, dan kemauan untuk terus berkembang,” pukasnya.
Kisah Emmy memberikan inspirasi nyata bagi mahasiswa USM bahwa fondasi ilmu dari kampus mampu membawa alumni berkiprah luas di level nasional.






