SEMARANG – Sebanyak 17 anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) mengikuti kegiatan penyuluhan pengelolaan keuangan yang diselenggarakan oleh mahasiswi KKN USM di Balai RW 03 Kelurahan Purwoyoso, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, pada Jumat (17/7/2026).
Kegiatan ini bertujuan mengarahkan fokus kelompok pada pengelolaan keuangan yang terstruktur guna mengoptimalkan pendapatan dari hasil pengolahan limbah organik menjadi eco enzyme, sekaligus memperkuat fondasi ekonomi kelompok agar program pertanian perkotaan (urban farming) dapat berjalan mandiri dalam jangka panjang.
Penyuluhan optimalisasi keuangan ini disampaikan oleh Levina Thirza Setyaningrum, mahasiswi Program Studi Akuntansi yang tengah menjalankan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) PPM Angkatan XXVIII Universitas Semarang (USM).
Sebelum adanya penyuluhan ini, KWT belum memiliki sistem pembukuan yang rapi serta alokasi keuntungan penjualan yang jelas. Kondisi tersebut membuat kelompok kesulitan mengidentifikasi laba bersih maupun menyusun rencana anggaran jangka panjang untuk pengembangan infrastruktur pertanian. Padahal, penjualan produk turunan seperti eco enzyme, pupuk organik, hingga bibit tanaman memiliki potensi ekonomi yang cukup menjanjikan.
Lewat sosialisasi ini, Levina mengenalkan penerapan siklus pengelolaan keuangan sederhana yang disiplin. Aktivitas operasional dimulai dari penerimaan hasil penjualan, pencatatan menyeluruh atas arus masuk dan keluar uang, hingga perhitungan laba bersih. Seluruh dana baik dari penjualan produk, iuran anggota, maupun donasi dikelola secara transparan agar terpisah tegas dari keuangan pribadi pengurus.
Guna menjaga kelangsungan program, alokasi keuntungan kini dibagi secara sistematis ke dalam beberapa pos anggaran strategis. Sebesar 40 persen dialokasikan untuk modal produksi berikutnya, 30 persen untuk pengembangan fasilitas urban farming, 20 persen dimasukkan ke kas KWT, dan 10 persen sisanya disimpan sebagai dana cadangan darurat.
Penerapan manajemen keuangan yang sehat ini membawa dampak positif bagi kelompok. Dari sisi ekonomi dan organisasi, pendapatan menjadi lebih terkontrol, risiko kerugian dapat ditekan, dan kepercayaan antaranggota meningkat berkat adanya laporan kas bulanan yang terbuka. Dari sudut pandang lingkungan, finansial yang mandiri memastikan program daur ulang limbah terus berjalan seiring perluasan kawasan hijau di wilayah perkotaan.
Dengan komitmen evaluasi rutin dan transparansi laporan berkala, tata kelola keuangan ini diyakini menjadi kunci utama keberhasilan kelompok. Pengelolaan limbah yang ramah lingkungan tak hanya menjaga kelestarian alam, tetapi juga terbukti mampu menjadi motor penggerak kesejahteraan ekonomi warga.






