Peringati Hari Lahri Pancasila, UKM PIB USM Gelar Webinar

  • Bagikan
Dalam rangka memperingati hari lahir Pancasila Unit Kegiatan Mahasiwa (UKM) Pengawal Ideologi Bangsa (PIB) Universitas Semarang (USM) menggelar Webinar.

KAMPUSPEDIA.ID – Dalam rangka memperingati hari lahir Pancasila Unit Kegiatan Mahasiwa (UKM) Pengawal Ideologi Bangsa (PIB) Universitas Semarang (USM) menggelar Webinar pada Selasa (1/6).

Kegiatan yang diikuti 135 peserta yang berasal dari perwakilan BEM, Dewan Mahasiswa, perwakilan UKM baik dari USM maupun dari Perguruan Tinggi lain ini dibuka oleh Ketua UKM PIB Athfal Husain.

Menurut Athfal panitia menghadirkan dua  narasumber yaitu Tri Mulyani, S.Pd., S.H., M.H., (Pembina UKM PIB USM) dan  Ade Adriansyah, S.T., S.H., M.H., M.Kn..

Athfal mengatakan bahwa  webinar ini diselenggarakan dalam rangka memperingati hari lahirnya Pancasila.

“Dengan memperingati hari – hari besar nasional terlebih lagi adalah hari lahirnya Pancasila, kita diingatkan sejarah, dengan demikian dapat menumbuhkan semangat nasionalisme kita, dan memperkokoh Ideologi Pancasila dalam hati dan sanubari kita” ungkapnya.

Dalam materinya Tri Mulyani menyampaikan materi terkait dengan sejarah lahirnya UKM PIB USM.

“Keberadaan UKM PIB di USM bertujuan sebagai wadah pembinaan ideologi Pancasila dan  mahasiswa wajib menanamkan nilai-nilai Pancasila di dalam jiwa mereka, agar mahasiswa menjadi manusia dan warga negara yang memiliki kepribadian Pancasila, yaitu manusia yang religius, humanis, nasionalis, demokratis dan adil” ungkap Tri.

UKM PIB USM akan selalu senantiasa siap menjadi penjaga Konsesnsus Dasar Berbangsa dan Bernegara Republik Indonesia (Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika (Empat Pilar Kebangsaan).Senada dengan Tri, narasumber Ade Adriyansah menyampaikan materi terkait dengan immplementasi nilai-nilai Pancasila di perguruan tinggi.

“Nilai-nilai Pancasila yang dijabarkan dalam butir-butir Pancasila wajib dipahami dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari (di lingkungan kampus khususnya dan di masyarakat pada umumnya), agar dapat menangkal lahirnya nilai-nilai asing yang baru dan berbau-bau radikal” ungkap Ade.

Menurut Ade hal ini menjadi penting karena mahasiswa adalah merupakan sasaran dengan mudah untuk memasukan doktrin radikal, karena usia muda identik dengan pencarian jati diri dan terjadi ketidakstabilan emosi.(*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.